Breaking

Post Top Ad

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Jumat, 13 Agustus 2021

Kisah Inspiratif Iriany Menjadi Duta Rumah Belajar Tanpa Pamrih

 


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin) terus berupaya meningkatkan kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran.

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi program pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) yang dinilai tidak hanya mensinergikan teknologi informasi dalam pembelajaran, tapi  juga mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Untuk meningkatkan program pembelajaran berbasis TIK ini, Kemendikbudristek pun memilih guru yang memiliki inovasi dan semangat di dunia pendidikan untuk dijadikan Duta Rumah Belajar (DRB). Duta Rumah Belajar ini menjadi perpanjangan tangan dari Kemendikbudristek dalam melakukan pengembangan dan pendayagunaan TIK untuk pembelajaran di masing-masing provinsinya. Utamanya Portal Pembelajaran gratis dari pemerintah, yaitu Rumah Belajar (belajar.kemdikbud.go.id).

Salah satu guru yang terpilih menjadi Duta Rumah Belajar adalah Iriany, S.Pd, M.Pd. Ia adalah seorang guru kimia di SMAN 2 Ternate, Maluku Utara. Iriany terpilih menjadi Duta Rumah Belajar sejak 2018. Sudah 3 tahun ia mengemban amanat tersebut.

Ia bercerita, awal tertarik menjadi Duta Rumah Belajar adalah karena ingin meningkatkan kompetensinya sebagai guru di bidang TIK. Lalu didorong rasa peduli dan prihatin terhadap kualitas pendidikan di daerahnya. Untuk diketahui, Maluku Utara selalu berada di peringkat terakhir untuk level nasional.

“Semangat untuk membuat perubahan inilah yang mendorong saya untuk mengikuti ajang DRB 2018. Saya melihat bahwa banyak fakta di daerah saya tidak terjadi pemerataan guru antara daerah kota dan daerah terpencil. Di sisi lain, banyak guru sangat minim berkesempatan mengikuti peningkatan kompetensi dirinya melalui diklat maupun pelatihan secara mandiri,” tutur Iriany.

Menjadi Duta Rumah Belajar adalah pengabdian sejati, ujar Iriany. Mereka bahkan menyebut DRB sebagai kelompok pasukan khusus (kopasus) Pusdatin Kemdikbud yang disiapkan bekerja secara sukarela tanpa pamrih.

Meski demikian, Iriany mengatakan, jika dirinya tetap berkomitmen menjadi Duta Rumah Belajar karena ingin menjadi bagian dari proses perubahan. Selain itu menurutnya, kehidupan yang terbaik tidak akan terjadi karena sebuah kebetulan. Kehidupan yang baik itu akan terjadi karena sebuah perubahan.

“Saya begitu bahagia melihat peserta didik tersenyum dan selalu menanti di kelas. Saya juga berharap mereka bisa menjadi seseorang yang mandiri, berakhlak mulia, disiplin serta berkomitmen terhadap apa yang mereka lakukan. Saya juga tak pernah putus asa membantu para guru untuk terus belajar dan bisa menjadi partner mereka dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi,” ujarnya.

Menurut Iriany, hidup seseorang akan mencapai kebahagiaan jika ia sanggup memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sebagai DRB, tugas yang harus ia lakukan adalah bisa menjadi pribadi yang selalu  berkomitmen terhadap tugas yang dilakukan hingga akhir.

“Bisa memberikan nilai positif di mana pun saya berada dan bisa membawa para siswa dan guru menjadi pribadi-pribadi yang berpikir positif. Itu bonus utama saya. Yang terpenting saya harus bisa membawa mereka keluar dari zona aman mereka,” imbuh Iriany.

Tugas utama seorang Duta Rumah Belajar, lanjut Iriany, adalah membantu Pusdatin Kemendikbudristek menyosialisasikan dan mendiseminasikan portal Rumah Belajar kepada rekan guru yang ada di daerah masing-masing. Duta Rumah Belajar juga menjadi solusi bagi pendayagunaan TIK ke dalam pembelajaran, khususnya portal Rumah Belajar.

Selain itu, sebagai Duta Rumah belajar, Iriany juga memiliki program-program yang dilaksanakan. Program tersebut melibatkan aparat desa, camat, lurah orang tua siswa, masyarakat, kepala UPTD, kepala sekolah, ketua MGMP, KKG dan organisasi profesi.

“Karena menjadi duta Rumah Belajar di wilayah 3T, maka saya juga melakukan kerjasama membuat MoU dengan radio RRI Pro 2 untuk menyalurkan program khusus rumah belajar untuk daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau,” kata Iriany.

Program Duta Rumah Belajar yang dilakukan Iriany di antaranya melaksanakan pendampingan dan sosialisasi terhadap Rumah Belajar yang offline. Karena menurutnya, tantangan yang dihadapi adalah hampir 78% wilayah di Maluku Utara tidak memiliki akses internet.

“Maka salah satu cara yang kami lakukan adalah bekerja sama dengan Pusdatin, yaitu melaksanakan satu program web rumah belajar offline kepada guru-guru sekolah yang kami bentuk sebagai pilot project. Kami ikut terlibat mendampingi sekolah-sekolah tersebut, guru-guru dan siswanya untuk belajar memanfaatkan rumah belajar offline,” ujar Iriany.

Selain itu, di dalam rumah belajar offline juga ada paket belajar pengenalan tentang pembelajaran informasi bersama Rumah Belajar. Di mana salah satunya adalah mendampingi anak-anak di daerah 3T untuk melaksanakan pembelajaran inovasi berbasis proyek.

Adu satu hal yang dipegang teguh Iriany sebagai motivasinya menjalankan amanah Duta Rumah Belajar. Ia meyakini untuk cakap digital dan mengakses rumah belajar tidak harus menunggu ada infrastruktur internet, akan tetapi dapat dilakukan melalui rumah belajar offline.

“Kami terus mendorong para siswa, guru untuk bisa memanfaatkan pembelajaran berbasis digital namun tidak bergantung kepada internet. Program kami yang lainnya dan masih sedang terus difokuskan adalah program One Teacher One Server untuk guru 3T.  Sebagai Duta Rumah Belajar saya berinisiatif melakukan kerjasama dengan Duta Rumah Belajar dari Jawa Timur, kami berkolaborasi lintas provinsi. Kami yakin bahwa satu-satunya solusi yang bisa menyelesaikan masalah bukan kita menunggu pemerintah memenuhi infrastruktur internet. Namun perubahan dapat dilakukan dari mulai sekarang,” tuturnya.

Sosok Iriany yang begitu menginspirasi dan memotivasi semua orang khususnya di satuan pendidikan, dimana ia menjalankan amanah sebagai Duta Rumah Belajar tanpa pamrih akhirnya diganjar setimpal ketika ia mendapat penghargaan dari Pusdatin Kemdikbud untuk berkunjung ke Australia.

Iriany berharap, dengan kehadiran Duta Rumah Belajar ini ia dan DRB yang lainnya bisa menjadi motor penggerak untuk percepatan terjadinya transformasi pendidikan di Indonesia. Dengan segala tantangan yang ada, DRB akan tetap berkomitmen dan memupuk semangat gotong royong bersama semua pihak untuk dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas, merata dan berkelanjutan .

Untuk itu pembangunan SDM dan infrastruktur  teknologi merupakan kebutuhan yang sangat vital di era saat ini apalagi di masa pandemi Covid-19. Peran pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk terus bersinergi dengan semua Duta Rumah Belajar juga merupakan hal yang sangat diharapkan.

“Pesan saya, menjadi guru adalah pilihan hidup. Keputusan dan pilihan kita hari ini akan mewarnai  masa depan murid kita. Marilah menjadi guru yang menghamba kepada anak didik kita tanpa syarat apapun. Bersama kita pasti bisa. Salam Rumah Belajar. Belajar di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja,” pungkasnya mengakhiri. (Hendriyanto).


Sumber : https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/kisah-inspiratif-iriany-menjadi-duta-rumah-belajar-tanpa-pamrih

Halaman