Breaking

Post Top Ad

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Rabu, 11 Agustus 2021

Pentingnya Peran Orangtua untuk Meminimalisir Learning Loss pada Anak

 


Di era pandemi ini, guru dan orang tua didorong kreatif. Tanpa kreativitas maka akan mengalami kejenuhan. Dengan jenuh maka akan mengalami lelah. Jika sudah lelah, maka seseorang tidak akan lagi mendapatkan motivasi. Hal tersebut ditegaskan H. Aris Ahmad Jaya, DVM, M.M., Motivator Character Building Nasional, dalam webinar bersama Direktorat Sekolah Dasar yang bertajuk ‘Pentingnya Peran Ayah Bunda Berkontribusi Meminimalisir Learning Loss’ yang tayang secara live pada Rabu, 4 Agustus 2021.

Aris mengatakan, masyarakat harus mampu merespons kondisi di era saat ini dengan kecerdasan. Pertama, mendidik tidak bisa mendadak. Mendadak tidak bisa mendidik. “Kita harus mempunyai upaya menyiapkan generasi yang hebat. Kondisi pandemi ini menjadi pelajaran luar biasa bagi guru dan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya,” papar Aris.

Poin yang kedua, lanjut Aris, orang tua harus mampu membersamai anak-anaknya. Karena bersama belum tentu membersamai. Satu rumah belum tentu ada komunikasi.

“Contoh seorang ibu rela bolak-balik ke sekolah dengan jarak tempuh jauh untuk mengambil tugas sekolah putrinya. Lalu memfotocopy karena tidak punya HP. Apakah karena dia pintar? Tidak. Dia bukan seorang guru. Bahkan kesehariannya hanya sebagai pedagang asongan. Tapi dia berhasil membersamai anaknya selama menjalankan proses belajar,” tutur Aris.

Ada empat komponen yang harus dipahami guru khususnya orang tua dalam mendampingi anaknya selama belajar PJJ. Pertama, anak harus punya IQ atau kecerdasan intelegensi. Kedua, anak harus memiliki kecerdasan emosi. Tanpa kejelasan emosi, anak mungkin tidak akan punya kesopanan. Anak tidak mampu menghargai, disiplin, komitmen dan bersabar. Itu adalah kecerdasan emosi di mana keduanya ini sangat penting.

“Selain kecerdasan intelegensi dan kecerdasan emosi, ada kecerdasan yang tidak kalah pentingnya yang harus dimiliki oleh anak, apalagi dalam situasi PJJ seperti saat ini. Yaitu kecerdasan menghadapi ketidaknyamanan dan menghadapi ketidaksukaan,” tutur Aris menjelaskan.

Untuk membangun ketiga kecerdasan tersebut, ujar Aris, tergantung pada cara orang tua mendidik anak-anaknya. Apalagi, di era new normal ini. Dalam membersamai anak ada tiga tipe orang tua. Ada orang tua nyasar. Ada orang tua bayar Ddan ada orang tua yang sadar.

“Orang tua nyasar biasanya dia bersikap masa bodoh. Dia tidak mau tahu tentang perkembangan dan pertumbuhan anaknya. Dia juga kurang menghargai proses. Lalu tipe orang tua bayar adalah orang tua yang oursorsing. Pokoknya yang penting saya sudah bayar dan sudah merasa cukup dengan memberikan kebutuhan finansial bagi anak. Dengan kondisi pandemi saat ini, anak harus belajar di rumah. Orang tua bayar tentu tidak lagi coco, bahkan sebelum pandemi pun juga tidak cocok karakter seperti ini,” kata Aris dengan tegas.

Sedangkan orang tua sadar, lanjut Aris, adalah orang tua yang menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah tanggung jawab mereka. Anugerah indah yang dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Pihak ketiga seperti guru hanyalah seorang suporter atau pelatih. Ketidakpahaman inilah yang akhirnya menjadi faktor terjadinya learning loss pada anak terutama di masa PJJ.

Aris menyampaikan, ada 5 tips bagaimana peran orang tua dalam meminimalisir learning loss, khususnya dalam karakter anak. Pertama, kebutuhan anak. Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan olehnya anak membutuhkan apresiasi. Walaupun dalam kondisi PJJ, mengapresiasi proses itu jauh lebih penting dari sekedar mengapresiasi hasil akhir.

“Apresiasi anak-anak dengan kata-kata positif seperti ungkapan terima kasih. Sebutkan apa yang Anda sukai lalu berikan alasan mengapa layak diapresiasi. Lalu doakanlah anak-anak kita. Ini berlaku juga bagi guru-guru di sekolah,” imbuhnya.

Tips yang kedua adalah kebersamaan waktu yang berkualitas, bukan hanya sekedar kuantitas. Waktu yang banyak saat bersama belum tentu membersamai. Orang tua harus membangun momentum seperti makan bareng, nonton bareng dan diskusi bareng.

Tips yang ketiga adalah cerdas dalam komunikasi. Komunikasi itu bukan berarti pandai berbicara, tapi apa yang disampaikan bisa diterima. Komunikasi adalah bagaimana mampu mengerti sebelum ingin dimengerti. Mau mendengarkan sebelum ingin didengarkan.

“Tips yang keempat adalah contoh dan teladan dari orang tua bagi anak-anak. Selama pandemi, semua 24 jam di rumah. Jadi orang tua harus bisa memberikan contoh bagaimana mengelola emosinya dan bagaimana memberikan sikap disiplin yang bisa dicontoh anak. Dan tips yang terakhir adalah berikan dukungan dan kepercayaan atau minimal berikan kesempatan kepada anak atau peserta didik dalam mengeksistensikan dirinya,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama Dr. Saminan Ismail, M.Pd - Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh menyampaikan ada beberapa alasan kenapa learning loss terjadi. Hal tersebut karena adanya perubahan paradigma akibat pandemi. Pendidikan selalu dititik beratkan pada kognitif. Dan mindset orang tua yang berpikir sekolah mampu menyelesaikan semua permasalahan peserta didik.

“Selama ini kita mencoba melihat bahwa orang tua belum menjadi guru bagi anak-anaknya. Selanjutnya Diknas juga belum melibatkan orang tua sebagai pemberi nilai pada rapor anak. Oleh karenanya, Diknas harus memiliki peran untuk bisa melibatkan orang tua dalam proses mengisi rapor anak. Apakah tentang perilakunya apapun bentuknya ini perlu dibuat untuk ke depan, sehingga akan mengurangi terjadinya learning loss,” papar Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh.

Selain itu, Diknas juga banyak yang belum membuat aplikasi yang melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran anak. Hingga akhirnya guru-guru mencoba menilai berdasarkan kemampuannya tanpa melihat peran anak di rumah.

“Selanjutnya faktor lain terjadinya learning loss juga karena siswa dalam peruses belajar masih difokuskan terhadap pembelajaran konstruktivis, sehingga siswa hanya mampu mengetahui bukan memahami,” tutur Saminan.

Untuk menghadapi tantangan agar tidak terjadi learning loss, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan Diknas. Pertama, perlu adanya paradigma baru untuk kompetensi pembelajaran. Di antaranya menekankan tentang pendidikan jiwa yang harus terbentuk. Sehingga anak akan disiplin, tahu malu, saling bekerja dan gotong royong.

Selanjutnya adalah pendidikan hati, saling kasih sayang dan saling membantu. Hal ini penting untuk ditindaklanjuti. Solusi yang ketiga adalah pendidikan karakter. Dan solusi yang keempat adalah pendidikan inovatif.

“Ini penting. Apalagi kita hidup di zaman di mana orang-orang memiliki kreatif hebat tapi tidak inovatif. Maka pasti akan tertinggal dalam perkembangan zaman. Anak-anak kita akan mengikuti perkembangan zaman. Oleh karenanya inovasi ini penting,” imbuhnya.

Di sisi lain Sekolah SD Negeri Cemara Dua, Surakarta memiliki caranya tersendiri dalam menanamkan praktik baik di sekolah untuk menghindari terjadinya learning loss. Utamanya di era pandemi ini. Di antaranya adalah melakukan perencanaan, sosialisasi, kolaborasi dan monitoring serta tindak lanjut.

Di dalam tahap perencanaan  SDN Cemara Dua Surakarta bersama dengan tim akan merumuskan rencana-rencana dalam pembelajaran di masa pandemi. Kemudian rencana tersebut dituangkan dalam program dan diajarkan kepada seluruh komite agar disepakati bersama.

“Sementra kolaborasi yang dilakukan adalah dengan melibatkan peran orang tua. Karena kami melakukan pembelajaran dengan sistem daring dan luring kami juga membuat program sapa Kepala Sekolah,” ujar Eni Idayati,S.Pd.,M.Pd. - Kepala Sekolah SD Negeri Cemara Dua, Surakarta.

Dalam proses menyosialisasikan program kepada seluruh siswa dan orang tua siswa, pihaknya menggunakan berbagai cara. Di antaranya memanfaatkan teknologi komunikasi seperti zoom. Bahkan dalam sosialisasi ini pihak sekolah turut melibatkan Dinas Pendidikan dan komite sekolah.

Nah, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan program. Karena masih pandemic, prioritas utama kami bukan untuk mencapai ketetapan guru. Pembelajaran tetap mengedepankan adanya pembiasaan literasi PPK serta kegiatan-kegiatan yang bisa membentuk profil pelajar Pancasila,” imbuhnya.

Selain itu, untuk mengurangi terjadinya learning loss selama PJJ, SDN Cemara Dua Surakarta memiliki program Lapor Bu. Sebuah program di mana permasalahan segera disampaikan orangtua kepada guru, kemudian melalui Kepala Sekolah akan dibahas, dimusyawarahkan dan dicari solusinya.

“Apabila ada anak yang satu minggu misalnya tidak mengikuti pelajaran dengan segera bisa kami atasi permasalahannya,” ujar Eni

Kemudian langkah selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala oleh pengawas sekolah dari Dinas Pendidikan. Dan yang terakhir, Kepala Sekolah secara berkala akan melakukan rapat menyeluruh sebagai bentuk supervisi.

“Di dalam kegiatan ini kami memberikan apresiasi dan penghargaan kepada guru dan anak yang paling aktif. Guru yang aktif ini juga berbagi praktik baiknya kepada teman yang lain. Harapannya semua kelas terlayani dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Dari sisi orangtua, Dwi Ernawati, ibu Kenesih Kalea Kaldera Hananta dari SD Negeri Cemara Dua, Surakarta, ikut buka suara. Dia menyampaikan, untuk membangun mood anak selama PJJ adalah dengan membangun lingkungan yang kondusif buat anak. Anak harus merasa nyaman selama melakukan PJJ di rumah.

“Selain membangun suasana yang kondusif, saya juga mencari spoiler materi ke wali kelas atau guru anak saya. Hal ini dilakukan supaya saya juga memiliki persiapan ketika mendampingi anak PJJ. Dan yang paling penting adalah saya selalu menjalin komunikasi intens dengan pihak sekolah baik guru, wali kelas hingga kepla sekolah.” pungkasnya. (Hendriyanto)


Sumber : https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/pentingnya-peran-orangtua-untuk-meminimalisir-learning-loss-pada-anak

Halaman